Selasa, 13 Desember 2011

PROSES PERENCANAAN, PENETAPAN TUJUAN ORGANISASI DAN PEMBUATAN KEPUTUSAN (HO5)



1.     Pengertian Perencanaan

Perencanaan terjadi di semua kegiatan yang merupakan proses dasar di mana manajemen memutuskan tujuan dan cara mencapainya. Perencanaan memegang peranan lebih penting dibandingkan fungsi-fungsi manajemen lainnya, karena fungsi-fungsi lainnya adalah melaksanakan keputusan-keputusan perencanaan.

Sebelum manajer melaksanakan kegiatan-kegiatan di dalam organisasi, mereka harus membuat rencana-rencana yang memberikan tujuan dan arah organisasi. Dalam perencanaan, manajer memutuskan “apa” (what) yang harus dilakukan, “kapan” (when) melakukannya, “dimana” (where) akan dilakukan, “siapa” (whom) yang melakukan, dan  “bagaimana” (how) melakukannya. Perencanaan adalah pemilihan sekumpulan kegiatan dan pemutusan selanjutnya, apa yang harus dilakukan, kapan, bagaimana, dan oleh siapa. Perencanaan yang baik dapat dicapai dengan mempertimbangkan kondisi di waktu yang akan datang dalam mana perencanaan dan kegiatan yang diputuskan  akan dilaksanakan, serta periode sekarang pada saat rencana dibuat.  

Berbagai pertanggung jawaban dalam perencanaan tergantung pada besarnya dan tujuan organisasi serta fungsi atau kegiatan khusus manajer, antara lain ;
1)      rencana jangka pendek untuk kegiatan- kegiatan yang sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan lingkungan,
2)      rencana musiman memusatkan perhatiannya pada tujuan-tujuan musiman,
3)      rencana jangka panjang dibutuhkan untuk pengembangan personalia, pengembangan teknik-teknik produksi dan sebagainya.
Bagaimanapun juga, manajer hendaknya memahami peranannya, baik perencanaan jangka panjang maupun jangka pendek dalam kerangka perencanaan keseluruhan.

Kebutuhan akan perencanaan ada di semua tingkatan yang mempunyai dampak potensial terbesar terhadap sukses organisasi. Perencanaan adalah suatu proses yang tidak berakhir bila rencana tersebut telah ditetapkan, rencana harus diimplementasikan. Setiap saat selama proses implementasi dan pengawasan, rencana-rencana mungkin memerlukan modifikasi agar tetap bermanfaat. Perencanaan kembali kadang-kadang dapat menjadi factor kunci pencapaian sukses akhir. Salah satu aspek penting perencanaan adalah pembuatan keputusan (decision making), serta pengembangan dan penyelesaian sekumpulan kegiatan untuk memecahkan suatu masalah tertentu. Keputusan-keputusan harus dibuat pada berbagai tahap dalam proses perencanaan.






2.           Tahap Dasar Perencanaan.

Semua kegiatan perencanaan pada dasarnya melalui empat tahap yaitu ;
1)      Tahap 1, Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan : yang dimulai dengan           keputusan-keputusan tentang keinginan atau kebutuhan organisasi dan  kelompok kerja. Tanpa rumusan tujuan yang jelas, organisasi akan  menggunakan sumber daya-sumber dayanya secara tidak efektif.
2)      Tahap 2, Merumuskan keadaan saat ini: melalui pentingnya pemahaman akan      posisi  perusahaan sekarang dan tujuan yang hendak dicapai atau sumber daya            sumber daya yang tersedia untuk pencapaian tujuan, karena tujuan dan rencana menyangkut  waktu yang akan datang. Tahap kedua ini memerlukan informasi, terutama keuangan dan data statistik, yang didapatkan melalui komunikasi dalam organisasi.
3)      Tahap 3,  Mengidentifikasikan segala kemudahan dan hambatan : melalui      identifikasi  kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses) serta      kemudahan (opportunities) dan hambatan (threats)  untuk mengukur      kemampuan organisasi dalam mencapai tujuan . Oleh karena itu perlu     diketahui factor faktor lingkungan internal dan eksternal yang dapat membantu organisasi mencapai tujuannya, atau yang mungkin menimbulkan masalah.
4)     Tahap 4, Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan : untuk pencapaian  tujuan, yang meliputi ; pengembangan berbagai alternatif kegiatan untuk pencapaian tujuan, penilaian alternatif-alternatif tersebut dan pemilihan            alternatif terbaik (paling memuaskan) diantara berbagai alternatif yang ada.

3. Alasan-alasan Perlunya Perencanaan

Salah satu maksud utama perencanaan adalah melihat bahwa program-program dan penemuan-penemuan sekarang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemungkinan pencapaian tujuan-tujuan di waktu yang akan datang, yaitu meningkatkan pembuatan keputusan yang lebih baik. Perencanaan organisasi harus aktif, dinamis, berkesinambungan, dan kreatif, agar manajemen tidak hanya akan bereaksi terhadap lingkungannya, tetapi menjadi peserta aktif dalam dunia usaha.

Ada dua alasan dasar perlunya perencanaan, yaitu ;
1)      protective benefits, pengurangan kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pembuatan keputusan,
2)      positive benefits, meningkatnya sukses pencapaian tujuan organisasi.

Perencanaan mempunyai banyak manfaat, yaitu ;
1)      membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan,
2)      membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah utama,
3)      memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran operasi lebih jelas,
4)      membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat
5)      memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi
6)      memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi
7)      membuat tujuan lebih khusus, terinci dan lebih mudah dipahami,
8)      meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti,
9)      menghemat waktu, usaha dan dana.

Perencanaan juga mempunyai beberapa kelemahan, antara lain ;
1)      pekerjaan yang tercakup dalam perencanaan mungkin berlebihan pada kontribusi nyata,
2)      perencanaan cenderung menunda kegiatan,
3)      perencanaan mungkin terlalu membatasi manajemen untuk berinisiatif dan berinovasi,
4)      kadang-kadang hasil yang paling baik didapatkan oleh penyelesaian situasi individual dan penanganan setiap masalah pada saat masalah tersebut terjadi,
5)      ada rencana-rencana yang diikuti cara-cara yang tidak konsisten.

Meskipun perencanaan mempunyai kelemahan-kelemahan tersebut, manfaat-manfaat yang didapat dari perencanaan jauh lebih banyak. Oleh karena itu perencanaan tidak hanya seharusnya dilakukan, tetapi harus dilakukan.

4.     Hubungan Perencanaan Dengan Fungsi-Fungsi Manajemen Lainnya.

Dalam banyak hal, perencanaan adalah fungsi yang paling dasar dan meresap ke seluruh fungsi-fungsi manajemen lainnya. Fungsi perencanaan dan fungsi-fungsi serta kegiatan-kegiatan manajerial lainnya adalah saling berhubungan, saling tergantung, dan berinteraksi.

Pengorganisasian, adalah proses pengaturan kerja bersama sumber daya-sumber daya keuangan, phisik dan manusia dalam organisasi. Perencanaan menunjukkan cara dan perkiraan bagaimana menggunakan sumber daya-sumber daya tersebut untuk mencapai efektifitas paling tinggi. Sebagai contoh, penyusunan personalia organisasi tidak akan dapat tersusun secara efektif tanpa perencanaan personalia.

Pengawasan, dan perencanaan saling berhubungan sangat erat, sehingga sering disebut sebagai kembar siam dalam manajemen 1). Pengawasan adalah penting sebagai produk perencanaan efektif. Bagi manajer hal ini menunjukkan apakah rencana yang telah disusun realistik atau tidak, bila rencana tidak realistik atau praktek manajemen buruk akan menyebabkan rencana tidak dikerjakan seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, pengawasan bertindak sebagai kriteria penilaian pelaksanaan kerja terhadap rencana. Pengawasan juga menjadi bagian dari rencana baru.

Tujuan setiap rencana adalah untuk membantu sumber daya-sumber daya dalam kontribusinya secara positif terhadap pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Rencana-rencana harus dibuat untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi sebelum para manajer dapat menentukan hubungan-hubungan organisasi, kualifikasi personalia yang dibutuhkan, bagaimana bawahan diarahkan, dan cara pengawasan yang diterapkan.




5.     Tipe-tipe Perencanaan Dan Rencana

Cara pengklasifikasian perencanaan akan menentukan isi rencana dan bagaimana perencanaan itu dilakukan. Meskipun proses dasar perencanaan adalah sama bagi setiap manajer, dalam praktek perencanaan dapat mengambil berbagai bentuk, sebab ;
1)      perbedaan tipe organisasi mempunyai perbedaan misi (maksud), di mana pendekatan perencanaan yang digunakan berbeda pula,
2)      dalam suatu organisasi yang sama dibutuhkan tipe-tipe perencanaan yang berbeda untuk waktu-waktu yang berbeda, 
3)      manajer-manajer yang berlainan akan mempunyai gaya perencanaan yang berbeda.

Ada paling sedikit lima dasar pengklasifikasian rencana, sebagai berikut ;
1)      Bidang fungsional, mencakup rencana produksi, pemasaran, keuangan, dan personalia. Setiap faktor memerlukan tipe perencanaan yang berbeda.
2)      Tingkatan organisasional, termasuk organisasi atau satuan-satuan kerja organisasi.Teknik-teknik dan isi perencanaan berbeda untuk tingkatan yang berbeda pula. Perencanaan organisasi secara keseluruhan akan lebih kompleks daripada perencanaan suatu satuan kerja organisasi.
3)      Karakteristik-karakteristik (sifat) rencana, meliputi factor-faktor kompleksitas, fleksibelitas, keformalan, kerahasiaan, biaya, rasionalitas, kuantitatif dan kualitatif. Misalnya, rencana pengembangan produk biasanya bersifat rahasia, rencana produksi lebih bersifat kuantitatif dibanding rencana personalia.
4)      Waktu, menyangkut rencana jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Semakin lama rentangan waktu antara prediksi dan kejadian nyata, kemungkinan terjadinya kesalahan semakin besar. Sebagai contoh, tingkat kepastian rencana pembangunan pabrik baru sepuluh tahun yang akan datang, lebih rendah di banding rencana kepindahan kantor dua minggu lagi.
5)      Unsur-unsur rencana, dalam wujud anggaran, program, prosedur, kebijakan, dan sebagainya. Perencanaan meliputi berbagai tingkatan dan setiap tingkatan merupakan bagian dari tingkatan yang lebih tinggi. Perencanaan berhubungan dengan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan, seperti program iklan, prosedur seleksi personalia, anggaran penelitian dan pengembangan dan lain-lain.

Dalam suatu organisasi, rencana dirinci melalui tingkatan-tingkatan yang membentuk hirarki dan paralel dengan organisasi. Pada setiap tingkatan, rencana mempunyai dua fungsi ;
1)       menyediakan peralatan untuk pencapaian serangkaian sasaran dari rencana tingkatan diatasnya,
2)       menunjukkan sasaran yang harus dipenuhi rencana di bawahnya. Rencana dari manajemen puncak akan dibuat menjadi rencana-rencana yang lebih terinci oleh satuan-satuan manajemen menengah dan lini pertama.

Ada dua tipe utama rencana ;
1)      Rencana-rencana strategik (strategic plans), yang dirancang memenuhi tujuan-tujuan organisasi yang lebih luas, mengimplementasikan misi yang memberikan alasan khusus keberadaan organisasi.
2)      Rencana-rencana operasional (operational plans), uraian lebih rinci bagaimana rencana strategik akan dicapai, yang terdiri dari dua tipe, yaitu ;
(1)      Rencana sekali pakai (single use plans), dikembangkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dan tidak digunakan kembali bila telah tercapai. Rencana sekali pakai adalah serangkaian kegitan terinci yang kemungkinan tidak berulang dalam bentuk yang sama di waktu yang akan datang, contoh; perencanaan perusahaan untuk membangun gudang baru karena perluasan usaha memerlukan  rencana sekali pakai khusus bagi proyek tersebut, walaupun perusahaan telah membangun sejumlah gudang lain di waktu yang lalu.
(2)       rencana tetap (standing plans), merupakan pendekatan-pendekatan standar untuk penanganan situasi-situasi yang dapat diperkirakan dan terjadi berulang-ulang. 2)

Strategi adalah program umum untuk pencapaian tujuan-tujuan organisasi dalam pelaksanaan misi. Program menyangkut suatu peranan aktif, sadar dan rasional yang dimainkan oleh manajer dalam perumusan strategi organisasi. Strategi memberikan pengarahan terpadu bagi organisasi dan berbagai tujuan organisasi, dan memberikan pedoman pemanfaatan sumber daya-sumberdaya organisasi yang digunakan untuk mencapai tujuan. Strategi dapat juga berarti, sebagai pola tanggapan organisasi terhadap lingkungan sepanjang waktu, yang berarti bahwa setiap organisasi selalu mempunyai strategi walaupun tidak secara eksplisit dirumuskan. Strategi menghubungkan sumber daya manusia dan berbagai sumber daya lainnya  dengan tantangan dan risiko yang harus dihadapi dari lingkungan di luar perusahaan.

Tipe-tipe rencana sekali pakai adalah ;
1)      Program, meliputi serangkaian kegiatan yang relatif luas, yang menunjukkan 
(1)   langkah-langkah pokok yang diperlukan untuk mencapai tujuan
(2)   satuan atau para anggota organisasi yang bertanggung jawab atas setiap langkah,
(3)   urutan dan waktu setiap langkah.
2)      Proyek, adalah rencana sekali pakai yang lebih sempit dan merupakan bagian terpisah dari program. Setiap proyek mempunyai ruang lingkup yang terbatas, arah penugasan yang jelas dan waktu penyelesaian.
3)      Anggaran (budget), adalah laporan sumber daya keuangan disusun untuk kegiatan-kegiatan tertentu dalam jangka waktu tertentu. Anggaran terutama merupakan peralatan pengawasan kegiatan-kegiatan organisasi dan komponen penting dari program dan proyek. Anggaran merinci pendapatan  dan pengeluaran dan memberikan target bagi kegiatan-kegiatan seperti penjualan, biaya-biaya departemen atau investasi baru.

Rencana-rencana tetap, akan terus diterapkan sampai perlu diubah (modifikasi atau dihapuskan). Rencana tetap memungkinkan para manajer menghemat waktu yang digunakan untuk perencanaan dan pembuatan keputusan , karena situasi-situasi yang sama ditangani secara konsisten. Wujud umum dari rencana-rencana tetap adalah ;
1)      Kebijakan (policy), adalah pedoman umum pembuatan keputusan, yang merupakan batas bagi keputusan, menentukan apa yang dapat dibuat dan menutup apa yang tidak dapat dibuat. Kebijakan menyalurkan pemikiran para anggota organisasi agar konsisten dengan tujuan organisasi.
2)      Prosedur standar, adalah kebijakan yang dilaksanakan dengan pedoman-pedoman yang lebih rinci, yang disebut juga metoda standar (standard operating procedure/SOP), yang berguna untuk ;
(1)   menghemat usaha manajerial,
(2)   memudahkan pendelegasian wewenang dan penempatan tanggung jawab,
(3)   menimbulkan pengembangan metoda-metoda operasi yang lebih efisien,
(4)   memudahkan pengawasan,
(5)   memungkinkan penghematan personalia,
(6)   membantu kegiatan-kegiatan organisasi.
4)      Aturan (rules or regulation), adalah pernyataan (ketentuan) bahwa suatu kegiatan tertentu harus atau tidak boleh dilakukan dalam situasi tertentu. Atutran digunakan untuk mengimplementasikan rencana-rencana lain dan biasanya merupakan hasil kebijaksanaan yang diikuti dalam setiap kejadian.

6.     Faktor Waktu Dan Perencanaan

Faktor waktu mempunyai pengaruh sangat besar terhadap perencanaan, yaitu ;
1)      untuk melaksanakan perencanaan efektif
2)      untuk melanjutkan setiap langkah perencanaan tanpa informasi lengkap tentang variable-variabel dan alternatif-alternatif, untuk mendapatkan data dan memperhitungkan semua kemungkinan,
3)      jumlah (atau rintangan) waktu yang akan dicakup dalam rencana harus dipertimbangkan.

Rencana jangka pendek (short range plans), mencakup berbagai rencana dari satu hari sampai satu tahun ; rencana jangka menengah  (intermediate range plans) mempunyai rentangan waktu antara beberapa bulan sampai tiga tahun ; rencana jangka panjang (long range plans) meliputi kegiatan-kegiatan selama dua sampai lima tahun, dengan beberapa rencana yang diproyeksikan 25 tahun atau lebih di masa yang akan datang. Rencana jangka panjang biasanya berkenaan dengan perencanaan starategik. Semakin panjang jangka waktu suatu rencana, semakin panjang periode untuk peninjauan kembali dan perbaikan. Juga semakin penting rencana terhadap keberhasilan organisasi, semakin sering diteliti dan diperhatikan.

7.     Perencanaan Strategik

Perencanaan strategik (strategic planning), adalah proses pemilihan tujuan-tujuan organisasi, kebijakan dan program-program strategik yang diperlukan untuk menjamin bahwa strategi dan kebijakan telah diimplementasikan. 3) Jadi perencanaan strategik merupakan proses perencanaan jangka panjang yang disusun dan digunakan untuk menentukan dan mencapai tujuan-tujuan organisasi.

Ada tiga alasan pentingnya perencanaan strategik, yaitu ;
1)      perencanaan strategik memberikan kerangka dasar dalam mana semua bentuk-bentuk perencanaan lainnya diambil,
2)       pemahaman terhadap perencanaan strategik akan mempermudah pemahaman bentuk-bentuk perencanaan lainnya,
3)       perencanaan strategik sering merupakan permulaan bagi pemahaman dan penilaian kegiatan-kegiatan manajer dan organisasi.

Perbedaan pokok perencanaan strategik dan operasional adalah ; 4)
                                    Perencanaan Operasional          Perencanaan Strategik
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pusat Bahasan              Masalah operasional                 Kelangsungan dan
                                                                                    pengembangan jangka panjang
Sasaran                        Laba sekarang                          Laba di waktu yang akan datang
Batasan                        Lingkungan sumber daya           Lingkungan sumber daya yang
                                    sekarang                                   akan datang
Hasil                             Efisiensi dan efektifitas  Pengembangan potensi yad
Informasi                      Dunia bisnis                              Peluang di waktu yad
Organisasi                    Birokrasi/stabil              Kewirausahaan/fleksibel
Kepemimpinan Konservatif                               Mengilhami perubahan radikal
Pemecahan masalah      Berdasarkan pengalaman          Antisipasi, menemukan
                                    Lalu.                                         pendekatan baru.
Faktor risiko                 Risiko rendah                           Risiko tinggi

Proses penyusunan perencanaan strategik meliputi ; 5)
1)      Langkah 1, penentuan misi dan tujuan, mencakup pernyataan umum tentang misi, falsafah, maksud dan tujuan organisasi
2)      Langkah 2, pengembangan profil perusahaan, yang mencerminkan kondisi internal dan kemapuan perusahaan.
3)      Langkah 3, analisa lingkungan eksternal, dengan identifikasi perubahan lingkungan ekonomi, teknologi, sosial , budaya, dan politik yang secara tidak langsung mempengaruhi organisasi.
4)      Langkah 4, analisa internal perusahaan, kekuatan dan kelemahan organisasi, dengan membandingkan profil perusahaan dan lingkungan eksternal. Proses analisa internal perusahaan meliputi ; 6)
(1)   Identifikasi faktor-faktor internal strategik,
(2)   Evaluasi faktor-faktor strategik perusahaan tersebut,
(3)   Kekuatan dan kelemahan perusahaan sebagai dasar strategi perusahaan.
5)      Langkah 5, identifikasi kesempatan dan ancaman strategik, identifikasi tujuan,  strategi, analisa lingkungan, serta analisa kekuatan dan kelemahan organisasi, untuk menentukan berbagai kesempatan yang tersedia bagi organisasi dan ancaman-ancaman yang harus dihadapi.
6)      Langkah 6, pembuatan keputusan strategik, mencakup identifikasi, penilaian dan pemilihan berbagai alternatif strategik.
7)      Langkah 7, pengembangan strategi perusahaan, menjabarkan tujuan jangka panjang dan strategi perusahaan ke dalam sasaran-sasaran jangka pendek (tahunan) dan strategi-strategi operasional.
8)      Langkah 8, implementasi strategi, menyangkut kegiatan manajemen untuk mengoperasikan strategi, yang berarti peletakan strategi menjadi kegiatan.lima variable yang merupakan factor kritis implementasi strategi adalah ;
(1)   tugas,
(2)   orang,
(3)   struktur,
(4)   teknologi
(5)   system balas jasa.
9)      Langkah 9, peninjauan kembali dan evaluasi (strategic control), dimana manajer perlu senantiasa memonitor secara periodik dan pada tahap-tahap kritis untuk menilai apakah organisasi berjalan kearah tujuan yang telah ditetapkan. Dua pertanyaan utama adalah ;
(1)   apakah strategi diimplementasikan sesuai rencana,
(2)   apakah strategi dapat mencapai hasil yang diharapkan.

Kebaikan perencanaan strategic dapat dirinci sebagai berikut ; 7)
1)      Kebaikan utama adalah, memberikan pedoman yang konsisten bagi kegiatan-kegiatan organisasi, melalui rumusan tujuan secara jelas, dan metoda pencapaian tujuan tersebut,
2)      Kebaikan penting lainnya adalah, membantu para manajer dalam pembuatan keputusan, melalui analisa informasi   yang diperlukan untuk membuat keputusan-keputusan baik.
3)      Meminimalisasi kesalahan, karena tujuan dan sasaran dirumuskan dengan sangat cermat.

Kelemahan-kelemahan perencanaan strategik adalah ;
1)      Kelemahan utama adalah, hal ini memerlukan investasi dalam ; waktu, uang, dan orang yang cukup besar,
2)      Cenderung membatasi organisasi  hanya terhadap pilihan yang paling rasional dan bebas risiko.

8.     Hambatan-Hambatan Perencanaan Efektif

Ada dua jenis hambatan pengembangan rencana-rencana efektif, yaitu ;
1)      Pertama adalah, penolakan internal para perencana terhadap penetapan tujuan dan pembuatan rencana untuk mencapainya,
2)      Hambatan kedua berada di luar perencana, keengganan umum para anggota organisasi untuk menerima perencanaan dan rencana-rencana karena perubahan-perubahan yang ditimbulkannya. Penolakan terhadap perubahan, terjadi diantara para anggota organisasi, baik para manajer maupun karyawan operasional yang harus melaksanakan kegiatan-kegiatan  yang telah direncanakan.

Alasan mengapa banyak manajer ragu-ragu atau gagal menetapkan tujuan dan membuat rencana bagi organisasi atau kelompok/satuan kerja mereka, karena ;
1)      kurang pengetahuan tentang organisasi,
2)      kurang pengetahuan tentang lingkungan,
3)      ketidak mampuan melakukan peramalan secara efektif,
4)      kesulitan perencanaan operasi-operasi yang tidak berulang,
5)      biaya, untuk penggunaan sumberdaya-sumberdaya keuangan, fisik, dan manusia,
6)      takut gagal, yang merupakan ancaman terhadap jabatan, penghargaan, dan respek orang lain terhadap diri manajer,
7)      kurang percaya diri, ragu-ragu menetapkan tujuan yang menantang,
8)      ketidak sediaan untuk menyingkirkan tujuan-tujuan alternatif.


Manajer dapat mengatasi hambatan-hambatan perencanaan melalui ;
1)      penciptaan system organisasi yang memudahkan penetapan tujuan dan perencanaan, baik yang dilakukan manajer punjcak, manajer tingkat bawah, ataupun karyawan bukan manajerial,
2)      memberikan berbagai bentuk bantuan secara individual kepada para perencana,
3)      penolakan terhadap suatu rencana dapat dikurangi atau dihilangkan antara lain melalui ;
(1)       melibatkan para karyawan dalam proses perencanaan,
(2)       mengembangkan pola perencanaan dan implementasi yang efektif,
(3)       memberikan lebih banyak informasi tentang rencana-rencana dan segala konsekuensinya ,
(4)       bersikap hati-hati terhadap dampak perubahan yang diusulkan para anggota organisasi,
(5)       meminimalisasi gangguan-gangguan yang tidak perlu.

Efektivitas perencanaan dapat dinilai melalui beberapa kriteria sebagai berikut ;
1)      Kegunaan, suatu rencana harus ; fleksibel, stabil, berkesinambungan, dan sederhana.
2)      Ketepatan dan obyektivitas, rencana harus dievaluasi untuk mengetahui apakah cukup ; jelas, ringkas, nyata, dan akurat, melalui informasi yang tepat.
3)      Ruang lingkup, perencanaan perlu memperhatikan prinsip-prinsip ; kelengkapan (comprehensiveness), kepaduan (unity), dan konsistensi, mencakup ; luas cakupan rencana, kerangka hubungan antar kegiatan, dan satuan kerja atau departemen yang terlibat.
4)      Efektivitas biaya, menyangkut ; waktu, usaha dan aliran emosional.
5)      Akuntabilitas, menyangkut aspek ; tanggung jawab atas pelaksanaan perencanaan dan implementasi rencana.
6)      Ketepatan waktu, dengan antisipasi berbagai perubahan yang tetrjadi sangat cepat.    


Sumber Pustaka
1.      Donald C. Mosley dan Paul H. Pietri, Management : The Art of Working With And Through People, Dickenson Publishing Emcino, California, 1975, hal.27.
2.      Wiliam H. Newman, Administrative Action :The Techniques of Organization and Management, Prentice Hall, Englewood Cliffs, New york, 1963, hal. 13-54.
3.      George A. Steiner dan John B. Miner, Management Policy and Strategy, Macmillan, New York, 1977, hal. 7.
4.      Bernard Taylor, Strategics for Planning, Long Range Planning 8, no 4, Agustus 1975, hal. 38.
5.      John A. Pearce II dan Richard B. Robinson, Jr, Strategic Management : Strategy Formulation and Implementation, Richard D. Irwin, Homewood, Illinois , 1982.
6.      John A. Pearce II  dan Richard B. Robinson, Jr, op. cit. hal. 156.
7.      James A.F.Stoner, Management, Prentice Hall International, Inc, Englewood Cliffs, New York, 1982, hal 124-125.
  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar